Kemenkes & Polri Identifikasi Korban Pesawat Lion JT610

PPNI Salurkan Donasi Bagi Perawat Terdampak Gempa Di NTB
29 Oktober 2018
PPNI Melalui Kontribusinya, Terima Penghargaan Kemenkes RI
31 Oktober 2018
Show all

Kemenkes & Polri Identifikasi Korban Pesawat Lion JT610

Wartaperawat.com – Kabar duka kembali dirasakan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia, setelah terkabar jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10/2018) sekitar pukul 06.33 WIB.

Pesawat yang baru beroperasi mulai Agustus 2018 lalu, berjenis Boeing 737 MAX 8 berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang, Bangka Belitung, dengan membawa 189 orang di dalamnya.

Menindaklanjuti kejadian ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Polri kerahkan petugas untuk mengevakuasi dan mengidentifikasi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan di Tanjung Priok ada tenaga kesehatan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang bertugas dalam musibah ini.

“KKP membantu dengan yang lain (tenaga kesehatan) dikirim ke sini (RS Polri) untuk identifikasi. Jadi identifikasi di RS Polri,” ucap Nila.

Selain itu, dari keterangannya, Kemenkes juga mengirim tim dokter ke RS Polri bergerak dan bekerjasama. Disaster Victim Identification (DVI) dilakukan di RS Polri dan butuh tenaga tambahan, jadi Kemenkes memenuhi kebutuhan itu.

Untuk keluarga korban ada pendampingan juga terkait masalah psikologi, baik dari Kemenkes atau Polri.

Kantong jenazah yang ditemukan, langsung dikirim ke RS Polri untuk DVI dan nantinya dicocokkan dengan DNA keluarganya.

Sehubungan dengan korban, satu diantaranya adalah peserta Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang akan mengabdi di Pangkal Pinang selama satu tahun, bernama dr. Ibnu Fajariyadi Hantoro, Sp.PD dengan penempatan di RSUD Kabupaten Bangka Tengah.

Sementara itu, Kepala RS Bhayangkara Said Sukanto, Komisaris Besar Polisi dr. Musyafak mengatakan setiap kantong jenazah ini isinya bisa lebih dari satu jenazah, tetapi memang kondisinya tidak utuh lagi.

Dikatakannya, 130 petugas dari Polri akan menangani fase pertama untuk evakuasi di tempat kejadian peristiwa di Tanjung Priok dan Karawang.

“Fase dua pos mortem kurang lebih ada 14 dokter forensik, pos antemortem ada 90 lebih laporan dan sudah di data sekarang masih proses pendataan juga,” jelas dr. Musyafak.

RS Polri akan berjaga selama 24 jam untuk menunggu kiriman kantong jenazah bila ditemukan kembali.

“Dari postmortem jenazah yang sudah dikirimkan 24 kantong jenazah,” ungkapnya dalam konferensi pers di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/10/2018).

Proses evakuasi di tempat kejadian masih berlangsung selama 24 jam dengan bantuan berbagai unsur yang terkait termasuk nelayan.

Hingga saat ini, selaian mencari korban, difokuskan pula dengan pencarian badan utama pesawat. (IM)

 

Sumber : Berbagai Sumber Media

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: