Peringatan PPOK Sedunia Tahun 2019, Ajak Masyarakat Cek Dini Kesehatan Paru

Pengmas STIKes Abdi Nusantara Jakarta : Edukasikan BHD & Wujudkan Visi Misi Prodi DIII Keperawatan
15 Desember 2019
BBH DPP PPNI Inginkan Perawat Jumraini Dibebaskan Dari Jeratan Hukum
16 Desember 2019
Show all

Peringatan PPOK Sedunia Tahun 2019, Ajak Masyarakat Cek Dini Kesehatan Paru

Wartaperawat.com – Peringatan hari PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) sedunia atau World COPD Day pada tahun 2019 yang ke-18, dari Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) mengangkat tema “All Together to End COPD”, dilakukan dengan beragam cara termasuk di Indonesia.

PPOK merupakan suatu penyakit yang umumnya dapat dicegah dan ditangani, yang ditandai dengan adanya gejala pernapasan yang persisten dan keterbatasan aliran udara pernapasan karena adanya abnormalitas pada pada saluran napas dan atau alveolus yang biasanya disebabkan oleh pajanan yang signifikan terhadap partikel atau gas beracun.

Dalam rangkaian memperingati hari PPOK sedunia, Departemen Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, menggelar kegiatan Edukasi & Skrining PPOK, dampak & bahaya merokok dan pemeriksaan Spirometri di saat pelaksanaan Car Free Day (CFD).

Kegiatan ini dibuka oleh DR. dr. H. M. Alsen Arlan, Sp.B-KBD, MARS dari RSUP Persahabatan, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki mengkampanyekan hari PPOK tersebut.

dr. Budhi Antariksa, PhD, Sp.P(K) selaku Ketua Divisi Asma PPOK FKUI-RSUP Persahabatan sekaligus sebagai Ketua Panitia dalam kegiatan ini.

Hadir pula Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K), FISR, FAPSR dan para tenaga medis lainnya.

“RS Persahabatan merupakan center of excelent untuk respirasi paru di Indonesia. Semua penyakit yang berhubungan paru, kita upayakan untuk dieliminasi terutama di Indonesia, karena RS kita yang paling menjadi unggulannya,” ungkap DR. dr. H. M. Alsen Arlan, Sp.B-KBD, MARS disela-sela kegiatan di Area Indofood Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (15/12/2019).

Direktur Medik dan Keperawatan RS Persabatan ini menjelaskan bahwa kegiatan ini untuk memperingati hari PPOK, sedangkan PPOK merupakan penyakit paru yang menahun atau sumbatannya menahun. Dikatakannya, banyak kondisi yang menyebabkan menjadi penyakit ini, salah satunya TBC atau kebiasaan merokok.

“Jadi hari ini kita kampanyekan, dengan cara kita memberikan informasi kepada masyarakat, agar hidup sehat, dengan sehat paru-parunya melalui berhenti merokok, mencegah dan mengeliminasi penyakit TBC,” ucapnya.

“Kita tadi juga keliling untuk menginformasikan kepada masyarakat sekalian. Kita juga melakukan pemeriksaan fungsi paru dengan spiometri secara gratis di area ini,” lanjutnya.

Dijelaskannya, setelah dilakukan pemeriksaan, jika adanya tanda awal yang sama dengan yang disosialisasikan juga adalah batuk. Kalau batuknya tidak sembuh-sembuh, disarankan untuk dilakukan pemeriksaan secara bertingkat, mulai dari Puskesmas dan dilanjutkan ke RS. Jika masalahnya sudah cukup berat di RS tersebut, akan diteruskan dirujuk ke RS Persahabatan.

“Untuk sosialisasi ke daerah, kita sudah mempunyai Asosiasi Rumah Sakit Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) yang menangani paru di seluruh Indonesia. Kita juga melakukan tindakan  pencegahan melalui preventif promotif dari tingkat masyarakat bawah,” ujarnya.

“Kita minta kepada puskesmas, sebagai ujung tombaknya petugas kesehatan di daerah untuk mulai dari awal lakukan penyuluhan dan pemeriksaan. Bila sudah ditemukan tanda-tanda batuk, maka dilakukan pemeriksaan secara berjenjang. Biasanya yang datang ke RS Persahabatan, sudah berat masalah penyakitnya, sehingga perlu memulai pencegahan di Puskesmas,” terangnya.

Sehubungan dengan peran perawat dan kompetensinya dalam menangani permasalahan ini, Ia menuturkan, bahwa tenaga perawat juga diberikan pelatihan-pelatihan dan keilmuan tentang paru secara terus menerus, baik yang berada di daerah-daerah ataupun yang ada di Puskesmas.

“RS Persahabatan secara reguler melakukan pelatihan. Kita punya pusat respirasi nasional dan satu-satunya yang ada di Indonesia, jadi melakukan pelatihan kepada perawat secara reguler,” tutur Alsen Arlan.

“Baru saja kita melakukan simposium tentang penyakit TBC, dengan melibatkan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia termasuk keterlibatan perawat,” pungkasnya.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: