Hadirnya KKJH, Lebih Efisien Pantau Kesehatan Jemaah Haji

Minta Do’a Restu, Ketua DPD PPNI Kota Bekasi Jadi TKHI 1439 H
27 Juli 2018
Ketua DPW PPNI NTB Pantau Langsung Kejadian Gempa di Wilayahnya
29 Juli 2018
Show all

Hadirnya KKJH, Lebih Efisien Pantau Kesehatan Jemaah Haji

Wartaperawat.com – Pada musim haji 1439 H/2018 pihak penyelenggara berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji yang akan menjalankan ibadahnya. Selain keterlibatan SDM yang profesional dalam memberikan pelayanan, jasa penunjang yang berasal dari perkembangan teknologi menjadi pertimbangan pula.

Dengan adanya pengenalan Kartu Kesehatan Jamaah Haji (KKJH) yang sebelumnya diujicobakan pada tahun lalu sudah diterima oleh jemaah haji pada musim haji tahun ini. KKJH ini dikeluarkan untuk mengganti Buku Kesehatan Jemaah Haji (BKJH) yang selama ini digunakan sebelumnya untuk mengetahui  riwayat kesehatan jemaah haji.

Dari hasil pengamatan dan uji coba KKJH ternyata penggunaannya lebih efisien dan praktis, sedangkan BKJH berupa informasi kesehatan jemaah haji dalam bentuk buku, hanya diketahui dan dipegang secara perorangan saja.

Saat memberikan penjelasan, Kepala Bidang Kesehatan Haji Arab Saudi dr. Melzan Dharmayuli mengatakan KKJH lebih efisien daripada BKJH karena datanya dientri ke dalam Siskohatkes yang bisa diakses dimanapun. KKJH dilengkapi dengan kode QR dan barcode, sehingga ketika di scan dengan aplikasi Siskohat Mobile maka datanya dapat dilihat di manapun dan kapanpun.

“Jamaah pun juga dapat tahu bagaimana riwayat pemeriksaan mereka sehingga mereka lebih sadar di awal dan menjaga perilaku hidup bersih dan sehatnya,” ucap Melzan.

Kelebihannya, jemaah dapat melihat status kesehatannya di aplikasi Siskohat Mobile dengan scan. Dalam hal ini jemaah tidak perlu repot-repot membawa buku. Bila diperlukan, para petugas dapat mengakses di manapun berada dan jemaah haji yang berbeda.

“Misalnya TKHI Kloter dari Surabaya dapat memberikan pelayanan untuk Kloter dari Lombok. Petugas selanjutnya bisa entri langsung sehingga lebih fleksibel dan efisien dan lebih praktis,” terang Melzan.

Tentunya KKJH juga ada ICV atau sertifikat suntik meningitis yang dilengkapi dengan nama, jenis kelamin, dan kebangsaan. ICV ini akan dilegalisasi oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan. ICV merupakan syarat mutlak dari pemerintah Arab Saudi bagi warga negara lain yang akan masuk ke wilayah Arab Saudi. Tujuannya adalah untuk melindungi jemaah dari tertular meningitis.

Keberadaan KKJH ini telah terintegrasi antara kartu kesehatan jemaah haji Indonesia dan Siskohatkes.

“Data siskohatkes menjadi penting untuk kami tim kesehatan yang ada di lapangan untuk menentukan bentuk penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan jemaah,” jelas Koordinator Lapangan dari Tim Promotif Preventif dr. Ikhsan, di Madinah.

Menurut ikhsan, data-data tersebut dapat digunakan sebagai bahan materi yang akan diolah menjadi pesan kesehatan yang akan disampaikan kepada jemaah. Pada data Siskohatkes juga dapat digunakan oleh tim kesehatan lainnya seperti PPIH dan TKHI.

Kecepatan dan efektifitas dalam memberikan pelayanan sangat diperlukan bagi jemaah haji. (IM)

 

Sumber : Foto dan Berita Dari Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kemenkes RI.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: