DPP PPNI Mengedukasikan Kecerdasan Holistik & Ketahanan Jiwa Perawat

Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi Covid-19 : Agar Berjalan Lancar & Tepat Sasaran
14 Januari 2021
Gerakan Vaksinasi Covid-19 Tingkat DKI Jakarta : PPNI Jakarta Ajak Perawat Jadi Role Model
16 Januari 2021
Show all

DPP PPNI Mengedukasikan Kecerdasan Holistik & Ketahanan Jiwa Perawat

Wartaperawat.com – Kontribusi Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam menyampaikan ilmu pengetahuan secara online kepada anggotanya terus berkesinambungan, walaupun di masa pandemi Covid-19.

Kali ini Ketua Umum DPP PPNI Harif Fadhillah bersama Tim Penanganan Covid-19 DPP PPNI (Satgas Covid-19) mempersembahkan Daily Zoominar episode 196, mengangkat tema Kecerdasan Holistik & Ketahanan Jiwa Perawat.

Dengan menghadirkan narasumber Fidiansjah selaku Dirut RS Jiwa Marzoeki Mahdi Bogor dan Suyatno dari IPKJI Jawa Tengah, serta moderator Yeti Resnayati, yang juga Sekretaris II DPP PPNI.

“Saya ingin mengingatkan semua kepada sejawat ners dan perawat seluruh Indonesia dimanapun anda berada, tentang topik kita hari ini kaitannya dengan holistik intelligence dan ketahanan jiwa perawat,” ungkap Harif Fadhillah saat menjadi Keynote Speaker pada Zoominar DPP PPNI episode 196, melalui kanal Youtube Bapena PPNI, Kamis (14/1/2021).

Menurut Harif Fadhillah dari sebuah artikel yang dibacanya, bahwa yang disebut holistik intelligence itu adalah merupakan keseimbangan antara perpaduan pada beberapa intelligence, yaitu intelektual capacity, intelektual inspirasi, practical capacity, dan emosional capacity.

Diterangkannya, dibutuhkankannya keseimbangan integrasi terhadap empat hal tersebut dikarenakan orang seperti pemimpin atau seorang profesional itu dapat cerdas dengan keahlian maupun science, tidak menyadari bahwa dirinya terhadap orang lain, karena tidak mempunyai kecerdasan emosional.

Dikatakanya, mungkin sebagai seorang profesional maupun pemimpin, bisa cerdas secara emosional, tetapi kekurangan dalam hal menerapkan konsektual dalam tatanan operasional, yang mana kecerdasan inteletualnya kurang ditingkatkan.

Selain itu, Harif fadhillah mengatakan bahwa sebagai seorang profesional atau pemimpin dapat juga menjadi orang yang menginspirasi, memotivasi orang lain, tapi gagal untuk mewujudkan antusiasme dari gagasan mereka.

“Bahkan para pakar atau seorang ahli sekalipun secara teknik dapat saja kekurangan inspirasi untuk memiliki energi dan melibatkan orang-orangnya,” ucapnya.

“Hal inilah menjadi berbagai persoalan, sehingga kita perlu mengabungakan empat kapasitas ini  menjadi sebuah holistik intelligence,” sebut Harif Fadhillah.

Sehubungan dengan materi ketahanan atau resilience bagi jiwa perawat, diterangkannya bahwa ada beberapa faktor yang menumbuhkan ketahanan bagi seorang perawat, diantaranya : Lebih Efektif, Lebih Optimis, jangan pesimis, oleh karena itu dirinya yang berani bersedia untuk disuntik perdana, sebagai inspirator bagi teman-teman yang lain, dan hingga kini setelah 24 jam proses penyuntikan terhadap dirinya tidak menimbulkan hal-hal yang menganggu.

Selanjutnya, adanya faktor Spiritual, yaitu punya keyakinan yang kuat dan harus digunakan sebagai sarana konsultasi terhadap berbagai persoalan. Kemudian, adanya faktor Hope (harapan), yaitu punya harapan untuk keluar dari pandemi, melalui upaya-upaya bersama.

Diungkapkannya, sehubungan dengan upaya-upaya yang dilakukan, hal ini sangat sesuai juga yang dikatakan oleh Juru Bicara Satgas Covid-19,  disampaikannya, “jangan kau tanyakan kapan pandemi berakhir, tapi sejauhmana apa yang telah kau lakukan,” tegasnya.

Berikutnya, perawat yang punya ketahanan itu adalah perawat yang berkompeten, sehingga OP PPNI memberikan kesempatan dalam ruang media Zoominar, untuk menambah kompetensi, pengetahuan khususnya tentang Covid-19.

Sementara faktor yang lain, menurutnya adalah self control dan science of humoris, artinya harus serius dijaga tapi jangan bercanda, sehingga tidak membuat tanggapan di masyarakat yang tidak baik.

“Saya berpesan, mari kita suksekan program vaksinasi covid-19, karena perawat berada dan bertugas pada situsi yang rentan atau berisiko terjadi penularan,” imbuh Harif Fadhillah.

“Maka pada prinsipnya sebagai pelayanan publik atau masyarakat, kita perlukan rasa aman. Kalau kita misalkan tertular, maka bagaimana kita dapat memberikan pelayanan dengan baik. Oleh karena itu, kita mendukung program pemerintah dalam memberikan kesempatan pertama kepada petugas kesehatan atau tenaga kesehatan.

Ditambahkannya lagi, selain vaksin ini berfungsi melindungi diri, juga melindungi keluarga tercinta, dikarenakan mereka pula perlu dipastikan terproteksi dengan baik.

Harif Fadhillah juga menghimbau perawat untuk segera lakukan registrasi, berdasarkan laporan bahwa dari 500 ribu tenaga kesehatan yang dijadwalkan vaksin Covid-19, baru sekitar 71 ribu yang meregistrasi.

“Mari semua untuk bisa memenuhi terjadinya herd imunity, sehingga kita bisa melaksanakan imunisasi sebagian besar dari kita dan bahkan masyarakat kita dapat edukasi,” katanya.

“Mudah-mudahan 60% lebih masyarakat kita mendapatkan imunisasi, sehingga akan dapat menyebabkan lintas proteksi dan menjadi herd imunitiy, serta mudah-mudahan kita cepat keluar dari pandemi ini, “ tutup Harif Fadhillah. (IM)

 

Sumber foto : Screenshoot Youtube Bapena PPNI

 

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: